Jadi Gejala COVID-19, Ini Beda Delirium dan Depresi

Media sosial (Medsos) tengah diramaikan dengan informasi seputar gejala baru COVID-19. Katanya, virus yang sedang menjadi pandemi ini memiliki gejala baru, yaitu delirium. Sebuah postingan berisi tanda-tanda delirium beredar. Warganet sempat salah fokus, sebab gejala kondisi ini disebut mirip dengan depresi. 

Dalam postingan yang beredar, ada beberapa tanda-tanda delirium yang disebutkan, di antaranya sulit fokus dan mudah teralihkan, suka melamun dan lamban bereaksi, daya ingat menurun, kesulitan berbicara, berhalusinasi, mudah tersinggung dan mood berubah mendadak, sering gelisah, dan kebiasaan tidur berubah. Lantas, apa bedanya dengan depresi? 

Perbedaan Delirium dan Depresi

Virus corona masih menelan korban, baik korban positif maupun korban meninggal dunia. Selama ini, ada sejumlah gejala khas COVID-19 yang diketahui, seperti demam, sakit tenggorokan, hingga kesulitan bernapas. Seiring berjalannya waktu, ada sejumlah “gejala baru” yang disebut menjadi tanda infeksi virus. Salah satunya delirium, kondisi yang disebut mirip dengan depresi. Namun, kedua kondisi ini sebenarnya berbeda. 

Delirium dan depresi merupakan gangguan mental, keduanya sekilas terlihat mirip tapi sebenarnya tidak. Depresi adalah gangguan suasana hati alias mood. Kondisi ini ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam. Orang yang mengalami depresi juga cenderung merasa tidak peduli dengan kondisi sekitar. Rasa sedih sebenarnya adalah hal yang wajar, tapi seseorang bisa dikatakan mengalami depresi jika perasaan sedih mendalam bertahan hingga lebih dari 2 minggu. 

Sementara delirium merupakan gangguan mental yang lebih serius. Kondisi ini menyebabkan seseorang mengalami kebingungan parah dan penurunan kesadaran terhadap lingkungan sekitar. Baru-baru ini, delirium disebut sebagai salah satu gejala infeksi COVID-19. Sebuah penelitian di Spanyol menyebut gejala corona ini cenderung sering dialami oleh orang yang sudah lanjut usia alias lansia. 

Delirium adalah gangguan mental yang disebabkan oleh perubahan dalam fungsi otak. Perubahan terjadi secara cepat dan muncul bersamaan dengan penyakit mental atau fisik lainnya. Hal ini kemudian menyebabkan pengidap delirium mengalami kesulitan dalam berpikir, sulit berkonsentrasi, gangguan mengingat, serta gangguan tidur. Secara umum, kondisi ini biasanya bersifat sementara dan akan hilang jika penyebabnya ditangani atau dikendalikan. 

Ada beberapa gejala yang bisa menjadi tanda seseorang mengalami depresi, termasuk gejala fisik dan psikologi. Depresi ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam, sering menyalahkan diri sendiri, merasa putus asa, rendah diri, dan tidak berharga. Kondisi ini juga menyebabkan pengidapnya selalu merasa cemas dan suasana hatinya mudah berubah-ubah. Pada kondisi yang parah, depresi bisa memicu keinginan untuk bunuh diri. Kondisi ini juga memicu gejala fisik, termasuk mudah merasa lelah dan terlihat tidak bertenaga. 

Sementara pada pengidap delirium, gejala yang sering muncul adalah berkurangnya kesadaran pada lingkungan sekitar, gangguan kognitif atau kemampuan berpikir yang buruk, gangguan emosional, serta perubahan perilaku. Gejala penyakit mental ini juga bisa memburuk pada kondisi tertentu, salah satunya saat malam hari. Pada saat itu, lingkungan sekitar mungkin terlihat asing dan membuat pengidap delirium mengalami gejala-gejala tertentu.

Bagikan

0Shares
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X