Mitos atau Fakta, Penyakit Usus Buntu Bisa Bikin Usus Pecah

Jakarta – Apendisitis, atau lebih akrab dikenal dengan penyakit usus buntu, adalah peradangan yang terjadi pada bagian usus buntu atau apendiks. Masalah yang menyerang saluran cerna ini harus segera mendapatkan perawatan medis, karena jika tidak, bisa berujung pada kematian. Sayangnya, masih banyak yang menganggap remeh gangguan pada usus buntu, hingga munculnya komplikasi.

Benarkah Penyakit Usus Buntu Bisa Membuat Usus Pecah?

Salah satu komplikasi yang mungkin terjadi jika penyakit usus buntu dibiarkan tanpa penanganan adalah usus pecah. Namun, apa yang menyebabkan kondisi ini terjadi masih belum diketahui. Diyakini, infeksi yang memicu terjadinya peradangan pada saluran cerna inilah yang membuat usus bisa pecah.

Usus menjadi rumah untuk bakteri baik maupun jahat. Penyumbatan pada bagian usus buntu bisa menjadi tempat berkumpulnya bakteri jahat, sehingga terjadilah infeksi. Imunitas tubuh akan mencoba melawan infeksi ini dengan memproduksi nanah yang berasal dari kumpulan sel jaringan, sel darah putih, dan bakteri yang telah mati. 

Infeksi yang terjadi akan mengakibatkan meningkatnya tekanan pada bagian usus buntu. Alhasil, darah yang mengalir melewati dinding organ akan mengalami penurunan, sehingga jaringan pada bagian usus akan kekurangan pasokan darah dan mati secara perlahan-lahan. 

Luka atau robekan lalu akan terbentuk pada jaringan yang sudah mati ini, mengakibatkan munculnya tekanan pada jaringan yang mendorong bakteri dan nanah keluar dari dalam rongga perut. 

Bukan, usus pecah yang dimaksud bukan pecah seperti balon yang pecah. Namun, pecahnya usus ini digambarkan seperti keluarnya nanah dan bakteri dari dalam rongga perut. Usus buntu yang pecah umumnya terjadi 24 jam setelah gejala awal penyakit usus buntu muncul, dan risikonya akan semakin meningkat antara 48 hingga 72 jam setelah muncul gejala.

Kenali Tanda Usus Buntu Pecah

Agar bisa segera mendapatkan perawatan, kamu perlu tahu, apa saja tanda yang muncul ketika usus buntu pecah. Berikut beberapa di antaranya:

  • Sakit Perut 

Usus buntu umumnya akan mengakibatkan rasa nyeri yang parah pada perut, membentang dari pusar ke bagian kanan bawah. Apabila usus telah pecah, rasa nyerinya bisa lebih parah dan menyebar hingga ke seluruh area perut. Gejala ini akan memburuk ketika kamu batuk, berjalan, atau melewati polisi tidur ketika berkendara.

  • Demam

Demam memang menjadi cara tubuh untuk melawan infeksi, termasuk ketika mengalami usus buntu pecah. Jika kamu mengalami demam dengan suhu lebih dari 38 derajat Celsius disertai dengan rasa menggigil, berkeringat dingin, dan detak jantung meningkat, segera ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan. Jangan tunda, karena sekarang berobat ke rumah sakit lebih mudah dengan menggunakan aplikasi Halodoc

  • Hilangnya Nafsu Makan Disertai Mual dan Muntah

Peradangan pada usus buntu terkadang bisa turut mengakibatkan diare, mual, dan muntah. Tidak hanya itu, kamu pun akan kehilangan nafsu makan ketika terjadi sesuatu yang tidak beres pada sistem pencernaan.

Tanda lainnya yang bisa kamu kenali seperti keinginan untuk selalu buang air kecil dan perasaan gelisah atau kebingungan, karena bakteri mungkin saja telah masuk ke peredaran darah dan menyebabkan keracunan darah atau sepsis. Jadi, segeralah lakukan pengobatan sebelum usus buntu pecah. 

sumber :https://www.halodoc.com/

Bagikan

0Shares
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X